RRI.CO.ID, JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada triwulan III 2026. Hal ini didorong oleh peningkatan aktivitas produksi dan konsumsi domestik.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Mohammad Edy Mahmud, mengatakan seluruh lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif. Industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan andil pertumbuhan sebesar 1,20 persen.
“Secara year-on-year, ekonomi triwulan III tahun 2026 tumbuh sebesar 5,47 persen," ujarnya, Kamis 5 November 2026. "Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan pada triwulan III 2025 yang sebesar 5,04 persen."
Selain industri pengolahan, perdagangan berkontribusi 0,94 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sedangkan sektor konstruksi menyumbang 0,62 persen dan informasi komunikasi sebesar 0,49 persen.
[bacajuga=1;title="Inflasi Oktober 2026 0,22 Persen, BPS Sebut Komoditas Cabai Jadi Pemicu Utama";sumber="berita"]
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,62 persen. Komponen tersebut tumbuh 5,04 persen dan menunjukkan konsumsi masyarakat tetap terjaga.
Komponen PNPB juga memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap PDB pada triwulan III 2026 sebesar 30,81 persen. "Dengan demikian, 82,78 persen PDB pada triwulan III tahun 2026 berasal dari konsumsi rumah tangga dan PNPB,” ujar Edy.
Di bidang ketenagakerjaan, BPS melaporkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) Agustus 2026 sebesar 4,75 persen. Jumlah penduduk bekerja mencapai 147,99 juta orang atau bertambah 1,44 juta dibandingkan Agustus 2025.
Proporsi pekerja penuh waktu meningkat menjadi 67,47 persen, sedangkan pekerja formal tercatat sebesar 42,07 persen. Tiga lapangan usaha dengan penyerapan tenaga kerja terbanyak meliputi pertanian, perdagangan besar dan eceran, serta industri.
Sementara itu, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia 2026 mencapai 76,59 atau meningkat 0,69 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Capaian tersebut menempatkan pembangunan manusia Indonesia dalam kategori tinggi.
Peningkatan IPM didukung oleh perbaikan umur harapan hidup, harapan lama sekolah, rata-rata lama sekolah, serta pengeluaran riil per kapita. DKI Jakarta mencatat IPM tertinggi, sedangkan Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan IPM terendah. (Devita Pratiwi)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.