RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap berbagai temuan arkeologi yang memperkaya pemahaman sejarah manusia. Temuan tersebut mencakup seni cadas prasejarah hingga artefak batu berusia lebih dari satu juta tahun.

Mengutip laman BRIN pada Kamis, 5 November 2026, penelitian arkeologi dilakukan melalui pendekatan multidisiplin dan kolaborasi internasional. Upaya tersebut bertujuan mengungkap migrasi, perkembangan budaya, serta adaptasi manusia terhadap lingkungan.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara, menegaskan pentingnya menghubungkan catatan arkeologi antarkawasan dalam acara The 23rd Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA). Menurutnya, sejarah manusia merupakan proses yang saling berkaitan dan melampaui batas wilayah negara.

“Catatan arkeologi kawasan Indo-Pasifik bukan sekadar sejarah nasional yang terpisah. Ini merepresentasikan proses saling terhubung dan melampaui batas-batas politik modern,” kata Herry dalam siaran pers, dikutip dari laman BRIN.

Salah satu temuan yang memperkaya penelitian tersebut adalah stensil tangan prasejarah di Indonesia. Penelitian yang dipublikasikan pada Januari 2026 menunjukkan usia minimum temuan tersebut mencapai 67.800 tahun.

[bacajuga=1;title="Konferensi Internasional BRIN akan Bahas Kedirgantaraan dan Penginderaan Jauh";sumber="berita"]

[bacajuga=2;title="BRIN Teliti Potensi Temulawak sebagi Antibakteri";sumber="berita"]

[bacajuga=3;title="BRIN dan JAXA Perluas Kerja Sama Pemanfaatan Data Satelit ALOS-2 dan ALOS-4";sumber="berita"]

Penentuan usia stensil tangan menggunakan metode Laser Ablation-Inductively Coupled Plasma-Mass Spectrometry (LA-ICP-MS). Metode tersebut membantu peneliti mengidentifikasi usia minimum peninggalan seni cadas prasejarah.

Hasil penelitian ini turut memperluas pemahaman mengenai perkembangan seni cadas dan mobilitas manusia. Temuan tersebut juga memperlihatkan panjangnya sejarah ekspresi visual manusia di Nusantara.

Selain stensil tangan, peneliti juga memiliki temuan lukisan gua di Leang Tarangga, Sulawesi Selatan. Lukisan yang dipublikasikan pada 2024 tersebut diperkirakan berusia sedikitnya 51.200 tahun.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menilai temuan tersebut memberikan informasi penting mengenai perkembangan kemampuan manusia. Lukisan gua itu juga menunjukkan perkembangan ekspresi budaya masyarakat prasejarah.

Temuan arkeologi lainnya berupa artefak batu dari Kala Pleistosen Awal di Pulau Sulawesi. Artefak yang dipublikasikan pada 2025 tersebut diperkirakan berusia sedikitnya 1,04 juta tahun.

Fadli menegaskan masyarakat kepulauan bukan sekadar penerima pengaruh peradaban dari wilayah daratan. Mereka juga mengembangkan inovasi, kemampuan adaptasi, serta jaringan pertukaran budaya.

“Untuk memahami masa depan, kita harus terlebih dahulu memahami kedalaman dan keberagaman masa lalu,” kata Fadil.

Berbagai temuan tersebut memperlihatkan pentingnya Indonesia dalam penelitian sejarah manusia di kawasan Indo-Pasifik. Hasil penelitian arkeologi juga menjadi landasan ilmiah bagi pelestarian warisan budaya prasejarah. (Reporter: Nikita Yunistia Maryam)