Di bawah tahun 2003, Danau Dedughuk atau Deduhuk selalu dikunjungi kawanan gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus). Tapi selama 20 tahun terakhir, danau yang berada di Dusun Rantau Dedap di ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut (mdpl), tidak lagi dikunjungi gajah. Mengapa? “Kami tidak paham mengapa bujang besak (anak laki-laki besar) itu tidak pernah lagi muncul, padahal kami tidak pernah berkonflik,” kata Zali (44), warga Dusun Rantau Dedap, Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (26/10/26). Bujang besak adalah penyebutan masyarakat Semende untuk gajah sumatera. Danau Deduhuk berada di lembah perbukitan Gunung Patah atau yang dikenal sebagai kawasan Hutan Lindung Jambul Nanti Patah. Nama Deduhuk diambil dari tanaman semak liar atau perdu (Melastoma malabathricum). Masyarakat di Indonesia mengenalnya sebagai senduduk atau senggani. Disebut Danau Deduhuk, sebab di masa lalu tanaman perdu banyak tumbuh di pinggiran danau. Gajah sumatera bagi masyarakat Semende sangat dihormati. Sebab, di hutan gajah dapat dijadikan petunjuk jalur atau jalan teraman dan petunjuk sumber air beserta makanan. “Kalau kita masuk hutan, maka ikutilah jejak gajah. Kita pasti akan menemukan sumber air dan makanan. Hampir semua buah-buahan atau umbut tanaman yang dimakan gajah, dapat dimakan manusia. Selain itu jalur gajah adalah jalur aman. Pengetahuan ini sudah diturunkan jeme (orang) Semende dalam beberapa generasi,” jelas Zali. Dengan pentingnya peranan gajah tersebut, maka masyarakat Semende tidak pernah atau memiliki tradisi memburu atau membunuh gajah. “Mereka adalah dulur yang sama-sama hidup memanfaatkan hasil hutan.” Kawasan rawa Danau Deduhuk di Dusun Rantau Dedap, Semende Darat Ulu, Kabupaten…This article was originally published on Mongabay