RRI.CO.ID, Jakarta - Gunung Semeru, di Lumajang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Kamis pagi, 5 November 2026. Letusan gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut, disertai awan panas guguran yang meluncur hingga tiga kilometer dari puncak Mahameru.

PVMBG melalui Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian melaporkan, erupsi terjadi pada pukul 06.33 WIB. Berdasarkan hasil pengamatan, kolom abu vulkanik mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas puncak atau setara 4.376 mdpl.

'Kolom abu yang keluar saat erupsi tampak berwarna kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah selatan hingga barat daya. Aktivitas tersebut juga tercatat pada seismogram dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan berlangsung selama 3 menit 44 detik," kata Sigit dalam laporan pengamatan Gunung Semeru, di Lumajang, Jawa Timur, Kamis, 5 November 2026.

[bacajuga=1;title="Jangan Abaikan Radius Bahaya! Ini Peringatan PVMBG untuk Wisatawan Gunung Api";sumber="berita"]

Sigit menjelaskan, letusan Gunung Semeru kali ini turut memicu awan panas guguran yang bergerak menjauhi puncak. Jarak luncur material panas tersebut diperkirakan mencapai tiga kilometer dari kawasan puncak Mahameru.

"Sebelum letusan pukul 06.33 WIB, Semeru tercatat sudah mengalami dua kali erupsi pada hari yang sama. Aktivitas pertama terjadi pukul 03.33 WIB, sedangkan letusan berikutnya berlangsung pada pukul 05.37 WIB," ucap Sigit.

Pada erupsi pukul 03.33 WIB, ia mengatakan, tinggi kolom abu tidak dapat diamati secara visual. Meski demikian, aktivitas vulkanik tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 25 milimeter dan durasi 153 detik.

[bacajuga=2;title="Pekan Olah Raga (POR) Gunungkidul: Kabar Manis Kaum Perantauan";sumber="berita"]

"Letusan pukul 05.37 WIB menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter di atas puncak. Abu berwarna putih hingga kelabu tebal bergerak arah barat daya, seismograf menunjukkan amplitudo maksimum 25 milimeter dengan durasi 124 detik," ujar Sigit.

Semeru Masih Status Siaga

Di tengah aktivitas vulkanik tersebut, Gunung Semeru masih berada dalam status Level III atau Siaga. Masyarakat diminta, mematuhi rekomendasi keselamatan dan menjauhi kawasan yang berpotensi terdampak awan panas guguran maupun material vulkanik.

Petugas mengingatkan, warga tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak. Kawasan tersebut, merupakan salah satu jalur yang berpotensi dilalui material hasil erupsi.

"Ancaman bahaya juga perlu diperhatikan di sepanjang sempadan sungai Besuk Kobokan. Masyarakat dilarang beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai, karena perluasan awan panas dan aliran lahar berpotensi hingga 17 kilometer," kata Sigit.

[bacajuga=3;title="Gunung Anak Krakatau Status Siaga, Ini Bahaya yang Harus Diwaspadai";sumber="berita"]

Selain itu, aktivitas masyarakat dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru juga harus dihindari. Kawasan tersebut, memiliki risiko lontaran material vulkanik berupa batu pijar yang dapat membahayakan keselamatan.

Sigit turut mengingatkan, masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya awan panas, guguran lava, dan lahar. Ancaman tersebut terutama perlu diantisipasi di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu di puncak Semeru.

"Beberapa jalur aliran sungai yang menjadi perhatian meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Warga diminta mewaspadai potensi lahar yang dapat mengalir melalui sungai-sungai kecil yang terhubung dengan Besuk Kobokan," ucap Sigit.