RRI.CO.ID, Jakarta — Hari Kesadaran Tsunami Sedunia diperingati setiap 5 November untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Salah satu pelajaran penting berasal dari Simeulue, Aceh, melalui kearifan lokal bernama smong.
Dalam bahasa masyarakat Simeulue, smong merujuk pada tsunami atau gelombang besar yang datang dari laut. Pengetahuan ini diwariskan antargenerasi melalui cerita rakyat, nyanyian, dan tradisi masyarakat setempat.
Menurut penelitian dalam jurnal Earthquake Spectra, pengetahuan smong berakar dari tsunami yang melanda Simeulue pada 1907. Pengalaman bencana tersebut kemudian diwariskan agar masyarakat mengenali tanda bahaya dan segera menyelamatkan diri.
Pesan utama smong mengajarkan masyarakat untuk menjauhi pantai setelah merasakan gempa kuat atau berlangsung lama. Jika air laut tiba-tiba surut, masyarakat harus segera menuju tempat tinggi tanpa menunggu gelombang datang.
[bacajuga=1;title="Kenali Empat Faktor yang Pemicu Terjadinya Tsunami";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="Banjir Bandang Bisa Terlihat seperti Tsunami, Ini Perbedaan Keduanya";sumber="berita"]
Kearifan lokal ini tidak hanya disampaikan melalui cerita lisan. Penelitian dalam Indonesian Journal of Applied Linguistics mencatat penyebarannya melalui tradisi manafi-nafi, mananga-nanga, dan nandong.
Manafi-nafi merupakan tradisi penyampaian cerita rakyat kepada masyarakat. Sementara itu, mananga-nanga berupa nyanyian pengantar tidur dan nandong merupakan tradisi bernyanyi yang turut menyampaikan pesan budaya.
Tradisi tersebut membantu anak-anak dan generasi muda mengenal bahaya tsunami sejak dini. Dengan demikian, pengalaman bencana masa lalu tetap hidup sebagai pengetahuan yang dapat digunakan ketika keadaan darurat terjadi. (Rahmania Ulfah)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.