RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Rabu, 4 November 2026, ke level 4.856,90. Posisi tersebut turun 47,39 poin atau 0,97 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 4.904,29.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG berpeluang mengalami penguatan teknikal dalam jangka pendek. Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah level penting yang dapat menentukan arah pergerakan indeks.
"Hari ini, IHSG berpotensi short term teknikal rebound ke 4.950-4.970. Tapi hati-hati, sepanjang belum tembus di atas 4.970, IHSG masih akan terkoreksi ke 4700-4.800," kata Fanny Suherman, Rabu, 4 November 2026.
Fanny memperkirakan level support IHSG berada pada kisaran 4.700 hingga 4.800. Sementara itu, level resistance diproyeksikan berada di rentang 4.950 hingga 4.970.
[bacajuga=1;title="Harga Minyak Dunia Turun, Rupiah Kembali Menguat Pagi Ini";sumber="berita"]
Dari pasar global, pergerakan bursa Amerika Serikat (AS) berlangsung beragam pada perdagangan Selasa. Indeks Nasdaq menguat 0,83 persen dan S&P 500 naik 0,36 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,38 persen.
Fanny mengatakan pergerakan tersebut dipengaruhi sikap investor yang cenderung menunggu hasil pemilu sela di AS. "Penguatan terjadi menjelang pengumuman hasil pemilu paruh waktu AS," ucap Fanny.
Hasil pemilu tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump dalam dua tahun pertama. Sejumlah kebijakan yang dapat terdampak mencakup sektor fiskal, regulasi, perpajakan, hingga belanja pemerintah.
Sentimen kehati-hatian juga terlihat di pasar Asia. Bursa saham Korea Selatan tercatat anjlok 3,6 persen, sementara sejumlah bursa regional lainnya turut mengalami pelemahan.
[bacajuga=2;title="Setelah Anjlok Selasa Kemarin, Hari Ini IHSG Berpeluang Rebound";sumber="berita"]
Di sisi lain, harga minyak dunia mulai menunjukkan stabilisasi setelah sebelumnya mengalami penurunan lebih dari tujuh persen. Perkembangan harga komoditas energi tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari dalam negeri, investor mencermati hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Salah satunya merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 menjadi 5,4 hingga 5,5 persen.
Sebelumnya, KSSK memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada pada kisaran 5,6 hingga 6 persen. Penyesuaian tersebut mencerminkan perubahan penilaian terhadap prospek ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.
Dengan demikian, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan sentimen global, hasil pemilu sela AS. Serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam menentukan arah investasi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.