RRI.CO.ID, Jakarta – Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum Universitas Jambi, Arfa’i, menilai kewajiban publikasi ilmiah dapat menggeser nurani akademisi. Tuntutan syarat akademik membuat sebagian dosen lebih mengejar jabatan ketimbang memperhatikan proses dan kualitas karya ilmiah.
"Paradigma itu adalah bagaimana mendapat guru besarnya, bukan bagaimana cara mendapat guru besarnya yang sebenarnya sesuai dengan nurani. Makanya paradigma ini akhirnya akan menghilangkan nurani, walaupun idealnya seharusnya jadi contoh, tapi faktanya begitu," ujarnya dalam dialog bersama RRI Pro3, Rabu, 4 November 2026.
Ia mengatakan, publikasi jurnal menjadi syarat memenuhi Beban Kerja Dosen (BKD) dan jabatan guru besar. Menurutnya, dosen tanpa jurnal dinilai buruk kinerjanya dan hak seperti tunjangan terdampak.
[bacajuga=1;title="Arus Modal Masuk Capai Rp126 Triliun, Menkeu Harapkan Pasar Saham Pulih";sumber="berita"]
Ia menyebut, jurnal harus terbit setiap enam bulan, sementara guru besar dibatasi usia. Tekanan itu, katanya, membuka ruang bagi jurnal predator karena ada permintaan, maka ada penjual.
Arfa'i menilai, kewajiban publikasi untuk BKD, kenaikan pangkat, dan kelulusan mahasiswa sangat perlu ditinjau ulang. Ia mengatakan, penanganan jurnal predator saja tidak cukup tanpa menyentuh akar masalah.
"Kita tidak bisa hanya mengatasi. Ibarat memadamkan kebakaran, tanpa melihat akar masalah," katanya.
[bacajuga=2;title="Hilirisasi Kelapa NTB, JHL Dorong Peremajaan Perkebunan";sumber="berita"]
Arfa’i menilai. kinerja dosen lewat Tridarma Perguruan Tinggi tidak semestinya hanya diukur dari jumlah jurnal. Menurutnya, pembinaan masyarakat, penciptaan karya, dan penerbitan buku juga patut dihitung.
Sementara itu, Anggota Dewan Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Amich Alhumami, menyoroti sistem angka kredit kenaikan pangkat. Sistem itu dinilai mendorong dosen menerbitkan artikel demi mengumpulkan kredit.
"Pada umumnya, mereka menerbitkan artikel di jurnal ilmiah untuk mendapatkan kredit karena nilai kum-nya tinggi untuk kenaikan pangkat. Motivasi ini mendorong penerbitan secara masif, sementara riset sebagai dasar penerbitan jurnal ilmah tidak terlalu kuat," ujar Amich.
Menurut Amich, kondisi tersebut membuka peluang bagi jurnal predator mendapatkan pasar di kalangan akademisi. Ia menilai akreditasi dan reputasi jurnal perlu dijaga, terutama yang menjadi syarat kenaikan pangkat hingga guru besar.
(Reporter: Nadya Syifa Syauqiyah)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.