RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat saat jeda siang perdagangan, Kamis, 5 November 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat di level 5.016,17 atau naik 96,4 poin (1,96 persen).

Sebelumnya, IHSG dibuka menguat 78,57 poin menuju level 4.998,34. Sepanjang sesi pertama, indeks bergerak di zona positif dengan mayoritas saham menguat.

Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai penguatan IHSG ditopang sentimen eksternal dan domestik. Dari pasar global, bursa regional Asia menguat setelah Partai Demokrat memenangkan pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS).

Kemenangan tersebut memunculkan harapan meredanya konflik AS-Iran. Kondisi ini turut menekan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.

Pilarmas menilai, penguasaan Kongres oleh Partai Demokrat berpotensi membatasi pendanaan operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Sementara itu, Presiden Donald Trump mengakui perang dan kenaikan harga bensin menjadi faktor kekalahan Partai Republik.

[bacajuga=1;title="IHSG Menguat 78,57 Poin pada Pembukaan Perdagangan Hari Ini";sumber="berita"]

Penurunan harga minyak dinilai dapat mengurangi tekanan inflasi. Dengan demikian, kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat turut mereda.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati langkah regulator dalam memperbaiki tata kelola pasar modal. Sentimen membaik setelah regulator mengumumkan sanksi baru terkait dugaan pelanggaran di pasar saham.

Langkah tersebut menjadi bagian dari reformasi pasar modal setelah MSCI menyampaikan peringatan mengenai potensi penurunan peringkat pasar Indonesia. Perkembangan ini turut memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar domestik.

Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47 persen secara tahunan pada triwulan III 2026. Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan II yang mencapai 5,29 persen.

[bacajuga=2;title="Pasar Tunggu Data Pertumbuhan Ekonomi, IHSG Diperkirakan Bergerak 'Sideways'";sumber="berita"]

Pilarmas menilai pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi sentimen positif bagi pasar keuangan domestik. Kondisi ini juga berpotensi menjaga stabilitas rupiah dan meredam risiko keluarnya modal asing.

“Capaian tersebut menjadi sentimen kuat yang mampu meredam risiko penarikan modal asing. Serta menjaga nilai tukar Rupiah tetap stabil di tengah ketidakpastian likuiditas global,” kata analisis Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas.

Pertumbuhan ekonomi juga dinilai memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk melanjutkan program belanja strategis. Hal tersebut dapat dilakukan dengan tetap menjaga defisit anggaran di bawah batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Pada perdagangan sesi pertama, saham MKNT, BELL, AIMS, UVCR, dan WAPO mencatat kenaikan terbesar. Sementara itu, CBRE, BTEK, LAPD, TRUE, dan PPRO menjadi saham dengan penurunan terbesar.