RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penguatan pada pembukaan perdagangan Kamis, 5 November 2026. Pada awal sesi pertama, IHSG berada pada level 4.998,34 atau naik 78,57 poin (1,6 persen) dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,32 persen di level 4.919,77. Tim Phintraco Sekuritas menyebut pergerakan indeks hari ini cenderung bergerak mendatar atau sideways.
“Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak sideways pada kisaran 4.800 hingga 5.000. Penguatan signifikan bursa Wall Street, koreksi harga minyak mentah dan dolar AS, serta rebound harga emas berpotensi menjadi sentimen positif,” kata Tim Phintraco Sekuritas dalam analisis tertulis, Kamis, 5 November 2026.
Dari sisi global, investor turut mencermati hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat. Kemenangan Partai Demokrat yang mengambil alih mayoritas kursi DPR dan Senat berpotensi mengubah dinamika kebijakan pemerintahan Donald Trump.
“Kemenangan Partai Demokrat berpotensi mengubah dinamika kebijakan pemerintahan Trump, terutama terkait kebijakan fiskal dan perdagangan internasional. Hasil tersebut juga berpotensi memengaruhi hubungan geopolitik, prospek pertumbuhan global, serta arah pergerakan dolar AS,” ujarnya.
[bacajuga=1;title="IHSG "Rebound" ke Level 4.919 pada Akhir Perdagangan Rabu 4 November 2026";sumber="berita"]
[bacajuga=2;title="Investasi Rp1.500 Triliun dan Hilirisasi Perkuat Fondasi Ekonomi Indonesia";sumber="berita"]
Perubahan peta politik tersebut berpotensi membatasi ruang gerak agenda ekonomi Trump, termasuk kebijakan tarif perdagangan. Sementara itu, arah kebijakan moneter Federal Reserve tetap ditentukan perkembangan inflasi dan kondisi ketenagakerjaan.
Dari dalam negeri, investor akan mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada hari ini. Phintraco memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 1,3 persen secara kuartalan pada triwulan ketiga 2026.
“Secara kuartalan, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 1,3 persen pada triwulan ketiga 2026. Sementara secara tahunan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,2 persen,” kata Tim Phintraco Sekuritas.
Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan kedua yang mencapai 3,73 persen secara kuartalan. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi sebelumnya tercatat sebesar 5,29 persen pada triwulan kedua 2026.
Phintraco menilai realisasi pertumbuhan ekonomi di bawah ekspektasi berpotensi menekan sentimen pasar saham. Kondisi tersebut dapat memperkuat kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi dan prospek kinerja emiten.
Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang melampaui perkiraan berpotensi menjadi katalis positif bagi pasar saham. Realisasi tersebut juga dapat memperkuat keyakinan investor terhadap ketahanan fundamental ekonomi domestik.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.