RRI.CO.ID, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah saat jeda siang perdagangan Selasa 3 November 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat berada di level 4.963,06 atau turun 133,76 poin (2,62 persen).
IHSG sebelumnya naik 29,7 poin saat pembukaan perdagangan menuju level 5.126,52. Namun, indeks berbalik anjlok dan menyentuh posisi terendah di level 4.950,55.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pelemahan IHSG sejalan dengan tekanan yang melanda bursa regional Asia. Sentimen negatif tersebut dipengaruhi koreksi Wall Street, terutama akibat tekanan jual pada saham teknologi dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Pelaku pasar juga tetap berhati-hati menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS),” katanya. Penurunan harga minyak di tengah tanda-tanda kemajuan diplomatik AS dan Iran tidak banyak memperbaiki sentimen pasar secara keseluruhan.
[bacajuga=1;title="IHSG Naik 29,7 Poin saat Pembukaan Perdagangan";sumber="berita"]
Di sisi lain, pasar mencermati perkembangan positif hubungan diplomatik AS dan Iran. Ini meredakan kekhawatiran gangguan pasokan, sehingga harga minyak mentah dan Brent turun sekitar 7 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pada Selasa 3 November 2026, harga minyak mentah dan Brent masing-masing diperdagangkan pada sekitar USD96 dan USD104 per barel. Meski begitu, penurunan harga minyak belum cukup memperbaiki sentimen pasar secara keseluruhan.
Tim Pilarmas mencatat inflasi pangan pada Oktober 2026 meningkat dari 5,03 persen menjadi 5,81 persen. Hal ini menunjukkan gangguan pasokan akibat anomali iklim El Nino yang belum sepenuhnya mereda.
[bacajuga=2;title="Setelah Rilis Data Ekonomi, IHSG Diperkirakan 'Sideways' Hari Ini";sumber="berita"]
Sementara itu, inflasi inti Oktober 2026 tercatat sebesar 2,56 persen secara tahunan (year-on-year). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sebesar 2,84 persen.
Penurunan inflasi inti sebenarnya dapat memberikan ruang bagi bank sentral untuk menentukan kebijakan suku bunga. Namun, Tim Pilarmas menilai kondisi tersebut juga dapat mengindikasikan melemahnya permintaan riil masyarakat.
Menurut Tim, masyarakat terutama kelompok menengah ke bawah mulai mengurangi belanja kebutuhan sekunder dan tersier. Pendapatan yang tersedia cenderung lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Pada perdagangan sesi pertama, sejumlah saham mencatatkan kenaikan terbesar yaitu TMPO, MKNT, KICI, AIMS, dan BLTZ. Sementara saham yang mengalami penurunan terbesar meliputi TAMA, PPRO, TRUE, SINI, dan OKAS.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.