RRI.CO.ID, Teheran — Iran menyatakan masih melakukan pertukaran pesan dengan Amerika Serikat melalui mediator di tengah ketegangan kedua negara. Teheran menyebut proposal diplomatik tujuh tahap yang telah direvisi dapat diterapkan sepenuhnya dalam waktu dua hari.

Melansir dari Anadolu, Selasa, 3 November 2026, proposal tersebut dapat diterapkan dengan syarat Washington terlebih dahulu mengakhiri blokade lautnya. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers mingguan Senin, 2 November 2026.

Ia mengatakan, komunikasi diplomatik antara Teheran dan Washington masih berlangsung melalui jalur tidak langsung. Proposal yang diajukan Iran tetap menjadi dasar utama dalam perundingan kedua negara.

[bacajuga=1;title="Qatar Kembali Mediasi untuk Dorong Kesepakatan Damai AS-Iran";sumber="berita"]

Menurut Baghaei, proposal tersebut telah dibahas secara mendalam selama kunjungan delegasi Iran ke New York. Setelah itu, Teheran menerima tanggapan Washington melalui para mediator.

Proposal awal yang terdiri atas tujuh tahap kemudian disederhanakan menjadi rencana yang dapat diterapkan dalam waktu dua hari. Baghaei menyebut penyederhanaan tersebut sebagai bentuk iktikad baik dan pendekatan konstruktif Iran terhadap diplomasi.

[bacajuga=2;title="Wapres AS: Trump Tidak Akan Biarkan Perang Iran Berkepanjangan";sumber="berita"]

Rencana itu diharapkan dapat membuka jalan bagi dimulainya kembali perundingan serta pemulihan keamanan di Selat Hormuz. Namun, Iran menegaskan bahwa kesepakatan tidak dapat dicapai selama AS belum mengakhiri blokade laut dan memenuhi tuntutan Teheran.

Baghaei juga menyatakan bahwa Selat Hormuz tidak dapat dibuka kembali dan dijamin keamanannya apabila blokade tersebut masih berlangsung. Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi mengunjungi Doha untuk memfasilitasi pertukaran pesan Teheran dan Washington.

[bacajuga=3;title="Iran Jalin Komunikasi dengan Mediator untuk Hentikan Permusuhan";sumber="berita"]

Terkait surat terbaru dari AS, Baghaei mengatakan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran akan menentukan tanggapan berdasarkan kepentingan nasional. Ia menegaskan bahwa surat tersebut tidak menandai dimulainya proses diplomatik baru.

Baghaei juga menyampaikan kehati-hatian terhadap upaya diplomatik yang kembali dilakukan setelah perundingan sebelumnya di Islamabad mengalami kegagalan. Sikap tersebut turut dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut perundingan Islamabad sebagai pemborosan waktu.

Iran menuntut pencabutan seluruh sanksi AS yang dijatuhkan setelah Washington, menurut Teheran, melanggar kesepahaman Islamabad. Selain itu, Iran meminta pembebasan aset-asetnya yang sebelumnya telah disepakati dalam kesepahaman tersebut.