RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya N. Bakrie menilai pengolahan sagu, alga, dan kelapa berpotensi menghasilkan nilai tambah. Pengembangan komoditas unggulan daerah tersebut juga dapat melibatkan industri kecil dan menengah (IKM) agar naik kelas.

Anindya menyampaikan hal tersebut seusai bertemu Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji di Jakarta, Senin, 2 November 2026. Pertemuan tersebut membahas peluang penguatan industri nasional, pemanfaatan momentum ekspansi manufaktur, dan perluasan keterlibatan pelaku usaha berbagai skala.

Anindya menegaskan industrialisasi tidak hanya bertumpu pada proyek berskala besar dan berteknologi tinggi, seperti hilirisasi nikel menjadi bahan baku baterai. Menurutnya, pengolahan komoditas unggulan daerah juga berpotensi menghasilkan nilai tambah sekaligus melibatkan pelaku IKM untuk naik kelas.

"Industrialisasi bukan hanya yang bersifat besar, seperti nikel menjadi bahan baterai. Tadi kami juga membicarakan sagu, alga, dan kelapa," kata Anindya.

Ia menyampaikan Kadin berkomitmen mendukung industrialisasi nasional melalui semangat Indonesia Incorporated. Semangat tersebut menekankan gotong royong dengan melibatkan perusahaan besar maupun IKM dalam industrialisasi nasional.

"Tugas kami adalah bagaimana semangat Indonesia Incorporated, gotong royong itu bukan hanya melibatkan perusahaan besar, tetapi juga perusahaan industri kecil dan menengah. Semuanya harus bisa ikut berpartisipasi dalam industrialisasi nasional," ucap Anindya.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyebut prospek industri nasional sedang baik dan menuju fase ekspansi. Kondisi tersebut tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Oktober 2026 sebesar 53,77 dan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia 54,0.

[bacajuga=1;title="Kadin Apresiasi Program P3MDI Presiden Prabowo Siapkan Calon Pemimpin Bangsa";sumber="berita"]

Kedua indikator tersebut berada di atas ambang batas 50 yang menandakan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. PMI manufaktur Oktober 2026 bahkan mencapai level tertinggi dalam 31 bulan terakhir berdasarkan laporan S&P Global.

"Kami berbincang banyak hal. Tetapi satu hal yang utama adalah kami saling mengabarkan bahwa prospek industri kita sebenarnya sedang baik dan menuju tahapan ekspansi," kata Sarmuji.

Sarmuji menyebut keragaman sumber daya alam dan komoditas unggulan daerah menjadi keunggulan khas Indonesia yang perlu terus dikembangkan. Ia mengatakan Kemenperin dan Kadin memiliki perhatian serta kesepahaman yang sama untuk mengembangkan potensi tersebut.

"Itu merupakan keuntungan dan keunggulan khas Indonesia yang harus terus kita dorong, karena tidak dimiliki oleh negara lain. Kami bersama Kadin memiliki perhatian dan kesepahaman yang sama untuk mengembangkan potensi tersebut," ujar Sarmuji.

Sarmuji juga mengapresiasi komitmen Kadin dalam memperkuat peran industri kecil dan menengah (IKM). Kemenperin siap memperkuat kolaborasi dengan Kadin melalui peningkatan daya saing IKM dan penguatan keterkaitannya dengan industri berskala besar.

"Kesadaran dan perhatian Kadin terhadap industri kecil dan menengah merupakan hal yang luar biasa. Tentu kami menyambut baik dan mendukung langkah tersebut agar semakin banyak IKM yang berkembang dan naik kelas," kata Sarmuji.