RRI.CO.ID, Jakarta - CEO Audy Dental, drg. Yulita Bong, menganjurkan masyarakat melakukan scaling gigi sekitar dua kali setahun. Perawatan ini diperlukan untuk membersihkan karang gigi melalui tindakan profesional oleh dokter gigi.
Yulita menjelaskan, karang gigi terbentuk dari penumpukan plak yang bercampur dengan mineral dalam air liur. Kecepatan pembentukannya berbeda pada setiap orang sehingga kebutuhan pembersihan dapat bervariasi.
“Memang ada beberapa orang yang cenderung karang giginya terbentuk lebih slow, ada yang sangat cepat. Jadi ya kalau misalnya kita patok rata ya itu sekitar setahun dua kali sih, gitu,” kata Yulita dalam Media Breakfast Gathering & Clinic Tour bersama Audy Dental di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.
Berdasarkan pengalaman Audy Dental, perawatan preventif menjadi salah satu kebutuhan pasien di klinik gigi. Kelompok usia 25-35 tahun mencatat kunjungan scaling paling banyak, disusul kelompok anak-anak.
Pada pasien anak, perawatan preventif antara lain meliputi scaling dan aplikasi fluoride varnish. Sementara itu, kelompok remaja usia 13-17 tahun menunjukkan kebutuhan perawatan estetika yang tinggi, terutama ortodonti atau behel.
Yulita menjelaskan, pasien usia 25-35 tahun banyak menjalani pemeriksaan gigi dan scaling. Kelompok tersebut juga memanfaatkan layanan ortodonti serta perawatan restoratif.
Meski perawatan preventif menjadi salah satu kebutuhan pasien, gigi berlubang masih menjadi masalah yang paling sering ditemukan pada pasien anak maupun dewasa. Ia juga melihat pasien semakin bersedia menjalani pemeliharaan setelah memperoleh perawatan, seperti penambalan, scaling, pemasangan behel, dan mahkota gigi.
[bacajuga=1;title="Karies Gigi pada Anak, Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya";sumber="berita"]
Audy Dental memiliki lebih dari 65 klinik dan lebih dari 800 dokter gigi pada 2026. Yulita menyebut, grup klinik tersebut melayani sekitar 50.000 pasien setiap bulan.
Ia menegaskan, data tren perawatan tersebut berdasarkan pengalaman Audy Dental. Data itu tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi maupun kebiasaan perawatan gigi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.
Adapun, masalah gigi berlubang masih menjadi persoalan kesehatan yang banyak dialami anak-anak sekolah di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan September 2026, sebanyak 41 persen anak sekolah yang menjalani Cek Kesehatan Gratis (CKG) ditemukan mengalami karies atau gigi berlubang.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.