RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Kesadaran Tsunami Sedunia diperingati setiap 5 November untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai bahaya tsunami. Peringatan ini ditetapkan PBB pada Desember 2015 berdasarkan seorang warga negara Jepang yang membakar hasil panen sebagai tanda bahaya tsunami.

[bacajuga=1;title="Kenali Tanda-tanda Tsunami dan Bagaimana Antisipasinya";sumber="berita"]

Melansir Universitas Gadjah Mada (UGM), tsunami merupakan rangkaian gelombang laut yang menjalar dengan kecepatan lebih dari 900 kilometer per jam. Gelombang ini memiliki panjang lebih dari 100 kilometer dan jarak waktu antarpuncak berkisar 10 menit hingga satu jam.

Tsunami memiliki karakteristik berbeda dari gelombang laut biasa. Ketika mendekati perairan dangkal, kecepatannya menurun, tetapi ketinggian gelombang dapat meningkat hingga puluhan meter dan bersifat merusak.

Melansir dari sumber yang sama, berikut empat faktor penyebab terjadinya tsunami.

1. Gempa Bumi Bawah Laut

Gempa bumi bawah laut menjadi penyebab utama tsunami. Getaran akibat pergeseran atau tumbukan lempeng tektonik dapat mendorong massa air hingga membentuk gelombang besar.

Namun, tidak semua gempa bawah laut dapat memicu terjadinya tsunami. Potensi tsunami dipengaruhi lokasi pusat gempa, kedalaman, kekuatan, serta pola pergerakan sesar.

2. Letusan Gunung Berapi

Letusan gunung berapi, baik di daratan maupun bawah laut, dapat memicu gelombang tsunami. Aktivitas vulkanik menghasilkan getaran kuat yang mampu mengganggu keseimbangan massa air laut.

Salah satu contohnya adalah letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883. Peristiwa tersebut menghasilkan gelombang tsunami yang menghantam pesisir Lampung dan Banten serta menimbulkan banyak korban jiwa.

3. Longsor Bawah Laut

Longsor bawah laut terjadi ketika material berupa tanah, batuan, atau sedimen bergerak menuruni lereng dasar laut. Pergerakan material dalam jumlah besar secara tiba-tiba dapat memindahkan massa air dan membangkitkan gelombang tsunami.

Peristiwa ini dapat dipicu oleh gempa bumi tektonik maupun letusan gunung berapi bawah laut. Tabrakan lempeng juga berpotensi menyebabkan longsoran pada struktur dasar laut.

4. Hantaman Meteor

Hantaman meteor yang jatuh ke permukaan laut juga berpotensi menyebabkan terjadinya tsunami. Benturan benda langit berukuran besar dapat mengganggu keseimbangan massa air dan menghasilkan gelombang dahsyat.

Meski demikian, tsunami akibat hantaman meteor tergolong sangat jarang terjadi. Simulasi komputer menunjukkan meteor berdiameter lebih dari satu kilometer berpotensi menimbulkan bencana besar.

Mitigasi tsunami dapat dilakukan melalui pemetaan wilayah rawan dan penyediaan jalur evakuasi. Masyarakat juga perlu mengikuti pelatihan kebencanaan serta mengenali lokasi pengungsian dan tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. (Shafa)