RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyebut ‘Si Doel Anak Betawi’ bukan sekadar hiburan masyarakat. Karya sastra Aman Datuk Madjoindo tersebut juga menyampaikan pesan budaya dan nilai kehidupan masyarakat Betawi.

“Si Doel Anak Betawi menjadi hiburan masyarakat, menjadi tontonan, sekaligus juga tuntunan. Karena banyak sekali pesan-pesan budaya, termasuk budaya Betawi dalam hal ini,” katanya dalam sesi doorstop setelah acara Mengenang 130 Tahun Aman Datuk Madjoindo di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.

Menurutnya, Aman Datuk Madjoindo menggambarkan kehidupan masyarakat Betawi melalui karya sastra tersebut. Penulisannya juga menggunakan dialek Betawi yang memperkuat karakter cerita.

“Ditulis oleh Aman Datuk Madjoindo dengan dialek bahasa Betawi, budaya Betawi, kehidupan sehari-hari. Hubungan orang tua dengan anak dan kadang-kadang juga mungkin dengan humor-humor ala Betawi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Aman Datuk Madjoindo merupakan sastrawan produktif yang menghasilkan sekitar 54 karya sastra. Dari jumlah tersebut, sebanyak 20 karya diantaranya berbentuk novel.

[bacajuga=1;title="Pelestarian Karya Aman Datuk Madjoindo untuk Generasi Muda";sumber="berita"]

“Aman Datuk Madjoindo seorang sastrawan besar Indonesia, yang menulis sekitar 54 karya. Dan salah satu yang kita kenal sangat terkenal sekali yaitu Si Doel Anak Betawi,” katanya.

Karya tersebut kemudian berkembang melampaui bentuk buku dan menjangkau masyarakat melalui berbagai media. Sutradara Sjuman Djaja mengadaptasi novel tersebut menjadi film pada tahun 1973.

“Lalu juga ada TV series atau sinetron yang juga sangat dikenal oleh masyarakat. Dan bahkan dibuatkan lagunya yang sampai sekarang juga kita dengar,” ujarnya.

Adaptasi tersebut menjadikan Si Doel Anak Betawi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Serial televisinya juga menemani berbagai perubahan sosial, termasuk melewati masa reformasi.

Ia berharap, peringatan 130 tahun kelahiran Aman Datuk Madjoindo tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Pemerintah ingin mendorong pengembangan dan pemanfaatan karya sastra klasik agar menjangkau masyarakat lebih luas.

“Tidak ingin berhenti di perayaan saja, tapi bagaimana pengembangan dan pemanfaatan karya-karya Aman Datuk Madjoindo ini menjadi lebih luas lagi. Karena dengan kreativitas, inovasi, mungkin menjadi Intellectual Property (IP),” ujarnya.

[bacajuga=2;title="Menbud Fadli Apresiasi Empat Kategori Baru AMI Awards 2026";sumber="berita"]

Ia juga membuka peluang penerjemahan karya Aman Datuk Madjoindo ke berbagai bahasa. Langkah tersebut diharapkan memperkenalkan kekayaan sastra Indonesia kepada masyarakat internasional.

“Bisa diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan juga mungkin bisa dengan kreativitas sekarang. Bisa menjadi bagian dari hilirisasi budaya,” ucapnya.

Sehubungan dengan hal itu, Ketua Yayasan Aman Datuk Madjoindo, Boy Rafli Amar, menyampaikan pentingnya melestarikan pemikiran para sastrawan Balai Pustaka. Yayasan ingin menjadikan karya-karya tersebut sebagai bagian dari literasi pembangunan karakter anak Indonesia.

“Kita berharap budaya nasional, budaya hasil pemikiran para sastrawan kita ini bisa tetap membumi di Indonesia. Dan bahkan mendunia,” katanya.

Ia juga menyampaikan rencana menerjemahkan karya Aman Datuk Madjoindo ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris. Upaya tersebut diharapkan memperluas akses masyarakat dunia terhadap sastra Indonesia.

“Sebagaimana kata Pak Menteri, kita akan menindaklanjuti dengan menerjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris. Karena ini adalah merupakan sharing kita kepada dunia,” ujarnya. (Reporter: Davina Keisha Salsabila)