RRI.CO.ID, Jenewa — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan sebanyak 63 negara berhasil mengeliminasi setidaknya satu penyakit tropis terabaikan hingga Juni 2026. Namun, kekurangan pendanaan dan kemajuan yang tidak merata masih menjadi tantangan dalam mempertahankan pencapaian tersebut.

Dalam laporan terbarunya, WHO menyebut sebanyak 42 negara berhasil mengeliminasi setidaknya satu penyakit tropis terabaikan pada 2020. Jumlah tersebut meningkat menjadi 63 negara pada Juni 2026, dilansir dari Anadolu, Kamis, 5 November 2026.

[bacajuga=2;title="WHO: Kongo Kekurangan Tenaga Kesehatan saat Wabah Ebola Belum Terkendali";sumber="berita"]

Penilaian jangka menengah terhadap peta jalan WHO periode 2021–2030 menunjukkan semakin banyak negara mencapai keberhasilan dalam pengendalian penyakit tersebut. WHO mencatat jumlah masyarakat yang membutuhkan pengobatan atau intervensi lainnya turun menjadi 1,41 miliar orang pada 2024.

Angka tersebut berkurang 36 persen dibandingkan 2010, sementara kasus penyakit tidur atau sleeping sickness menurun sebesar 98 persen sejak 1999. Penyakit cacing Guinea juga mencapai angka terendah sepanjang sejarah, dengan hanya 10 kasus pada manusia yang tercatat selama 2025.

[bacajuga=1;title="WHO: Sistem Kesehatan Yaman Mendekati Titik Kritis akibat Eskalasi Konflik";sumber="berita"]

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut eliminasi penyakit tropis terabaikan sebagai salah satu keberhasilan penting dalam bidang kesehatan global. Namun, ia memperingatkan bahwa kemajuan tersebut masih rentan mengalami kemunduran apabila tidak didukung pendanaan berkelanjutan.

Ia juga menekankan pentingnya mengintegrasikan pengendalian penyakit ke dalam layanan kesehatan primer. Di tengah pencapaian tersebut, sejumlah tantangan masih menghambat upaya pengendalian penyakit.

WHO mencatat infeksi demam berdarah dengue mencapai rekor 15,1 juta kasus pada 2024. Sementara itu, upaya pemberantasan penyakit frambusia atau yaws masih tertinggal dari jadwal yang telah ditetapkan.

[bacajuga=3;title="WHO Minta Pendanaan Tambahan untuk Tangani Ebola di Kongo";sumber="berita"]

WHO juga menemukan bahwa pendanaan untuk program pengendalian penyakit tropis terabaikan masih 30 persen lebih rendah dibandingkan sebelum pandemi. Hampir 80 persen bantuan pembangunan internasional untuk program tersebut selama periode 2018 hingga 2024 berasal dari sejumlah kecil donor.

Ketergantungan ini membuat upaya pengendalian penyakit rentan terhadap pemangkasan bantuan secara tiba-tiba. WHO menyerukan peningkatan investasi dari masing-masing negara serta perluasan dukungan donor internasional, serta meminta percepatan langkah pengendalian penyakit.