RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional diperingati setiap 5 November sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian flora dan fauna Indonesia. Peringatan ini ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

[bacajuga=1;title="Flor del Espiritu Santo, Bunga Nasional Panama yang Mirip Burung Merpati";sumber="berita"]

Salah satu fenomena menarik dalam dunia tumbuhan dapat ditemukan pada bunga matahari yang mengikuti pergerakan matahari. Perilaku ini dikenal sebagai heliotropisme, yaitu gerakan bagian tumbuhan mengikuti arah sumber cahaya.

Melansir laman West Virginia University (WVU), heliotropisme juga dikenal sebagai pelacakan matahari atau solar tracking. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, yakni helio yang berarti matahari dan tropism yang merujuk pada gerakan organisme terhadap rangsangan.

Fenomena ini paling mudah diamati pada bunga matahari muda yang mengubah arah hadapnya mengikuti posisi matahari. Pergerakan tersebut berlangsung dari arah timur pada pagi hari menuju barat ketika matahari bergerak sepanjang siang.

Menariknya, bunga matahari kembali menghadap timur saat malam untuk menyambut terbitnya matahari. Heliotropisme dapat meningkatkan penyerapan cahaya hingga 10 persen atau lebih dibandingkan tanpa pergerakan tersebut.

Peningkatan penyerapan cahaya memberikan sejumlah keuntungan bagi perkembangan tanaman, terutama dalam mendukung pertumbuhan bagian vegetatifnya. Kondisi tersebut membantu bunga matahari menghasilkan area daun lebih luas sekaligus meningkatkan akumulasi biomassa tanaman.

Selain itu, bunga matahari memiliki jam biologis internal atau circadian clock yang membantu mengatur arah pergerakan batangnya. Mekanisme tersebut merespons arah cahaya dan menyebabkan pertumbuhan batang berlangsung lebih cepat pada salah satu sisi.

Melansir Dragonetti Florist, hormon auksin juga berperan dalam proses pembengkokan batang menuju sumber cahaya matahari. Hormon pertumbuhan ini terkumpul lebih banyak pada sisi batang yang teduh sehingga bagian tersebut memanjang lebih cepat.

Heliotropisme juga memiliki dua bentuk berdasarkan arah pergerakan bagian tumbuhan terhadap sumber cahaya yang diterimanya. Heliotropisme positif mengarahkan bagian tanaman menuju cahaya, sedangkan heliotropisme negatif menjauhinya.

Meski identik dengan bunga matahari, fenomena heliotropisme ternyata tidak hanya terjadi pada tanaman tersebut. Beberapa tumbuhan lain seperti bunga aster, morning glory, dan tanaman pothos juga menunjukkan perilaku serupa.

Namun, kemampuan mengikuti pergerakan matahari tidak berlangsung sepanjang kehidupan bunga matahari. Tanaman menghentikan pergerakan tersebut ketika memasuki tahap perkembangan bunga yang disebut anthesis.

Pada tahap tersebut, kepala bunga matahari umumnya menetap menghadap ke arah timur dan tidak lagi mengikuti matahari. Posisi ini membuat bunga lebih cepat menghangat pada pagi hari sehingga menarik serangga penyerbuk, termasuk lebah madu. (Shafa)