RRI.CO.ID, Jakarta — Hollywood dan Bollywood bukan satu-satunya industri film yang dikenal luas di dunia. Nigeria juga memiliki Nollywood, industri perfilman yang tumbuh pesat dan menarik perhatian internasional.

Nama Nollywood merupakan gabungan kata Nigeria dan Hollywood. Istilah ini diperkenalkan jurnalis The New York Times, Norimitsu Onishi, pada tahun 2002.

Meski namanya baru dikenal pada awal tahun 2000-an, perfilman Nigeria sudah berkembang sejak beberapa dekade sebelumnya. Mengutip International Monetary Fund (IMF), produksi film lokal Nigeria mulai tumbuh sejak dekade 1960-an.

Pada tahun 1970-an, pembuat film Nigeria mulai menghasilkan lebih banyak karya melalui produksi lokal. Salah satu film penting pada masa tersebut adalah Kongi’s Harvest, yang ditulis oleh Wole Soyinka.

Namun, perjalanan industri ini tidak selalu berjalan mulus. Krisis ekonomi pada dekade 1980-an ikut menyulitkan produksi film dan membuat sejumlah bioskop tutup.

[bacajuga=1;title="Mengapa Film Bollywood Identik dengan Tarian? Ini Alasannya";sumber="berita"]

Di tengah keterbatasan tersebut, pembuat film mulai mencari cara produksi yang lebih terjangkau. Mereka beralih menggunakan kaset video VHS untuk merekam, menggandakan, dan menyebarkan film.

Salah satu karya yang menandai perubahan tersebut adalah Living in Bondage, yang dirilis pada tahun 1992. Film berbahasa Igbo ini disutradarai Chris Obi Rapu dan diproduksi Kenneth Nnebue.

Menurut Oxford Academic, Living in Bondage menjadi salah satu tonggak penting perkembangan Nollywood. Kesuksesannya membuka jalan bagi produksi film video sebagai peluang bisnis baru.

Film-film kemudian beredar melalui jaringan distributor dan penjual kaset video. Cara ini membuat masyarakat dapat menikmati film Nigeria tanpa harus datang ke bioskop.

[bacajuga=2;title="Sejumlah Film Hollywood dengan Plot Twist Terbaik yang Wajib Ditonton";sumber="berita"]

Daya tarik Nollywood juga terletak pada cerita dan bahasa yang beragam. Film-filmnya mengangkat kehidupan keluarga, percintaan, agama, hingga persoalan sosial masyarakat Nigeria.

Bahasa yang digunakan pun tidak terbatas pada bahasa Inggris. Sejumlah film menggunakan Pidgin, Yoruba, Igbo, dan bahasa lokal lainnya.

Seiring perkembangan teknologi, cara masyarakat menikmati film Nigeria ikut berubah. Platform streaming membuka jalan bagi Nollywood untuk menjangkau penonton dari berbagai negara.

UNESCO mencatat industri film Nigeria diperkirakan menghasilkan sekitar 2.500 film setiap tahun. Angka tersebut menunjukkan besarnya kapasitas produksi industri ini dalam laporan yang diterbitkan UNESCO. (Rahmania Ulfah)