RRI.CO.ID, Jakarta - Hari Kebudayaan Jepang diperingati setiap 3 November untuk menghargai perkembangan seni, budaya, perdamaian, dan kebebasan. Peringatan ini berawal dari hari kelahiran Kaisar Meiji yang diperingati sebagai Meiji Setsu sejak 1927.

[bacajuga=1;title="Bunka no Hi, Hari Kebudayaan Jepang yang Diperingati Setiap 3 November";sumber="berita"]

Seni pertunjukan tradisional Jepang memiliki beragam bentuk, salah satunya Kabuki yang memadukan drama, tari, dan musik. Kesenian ini dikenal melalui tata rias mencolok, kostum khas, serta gerakan aktor yang ekspresif.

Melansir Global Business Network Jepang, Kabuki berasal dari tiga unsur kanji yang bermakna nyanyian, tarian, dan keterampilan. Perpaduan tersebut membentuk pertunjukan panggung yang menggabungkan dialog, gerak tubuh, musik, serta kemampuan akting para pemain.

Kesenian ini mulai diperkenalkan pada 1603 melalui pertunjukan dramatari oleh perempuan bernama Izumo no Okuni di kota Kyoto. Okuni tampil dengan pakaian mencolok menyerupai laki-laki sambil menari mengikuti lagu populer pada masa tersebut.

Melansir Universitas Indonesia, pertunjukan Okuni berkembang menjadi hiburan dramatik yang menarik perhatian masyarakat luas. Popularitasnya kemudian melahirkan berbagai bentuk Kabuki yang dibawakan kelompok perempuan maupun laki-laki muda.

Namun, pemerintah Jepang melarang perempuan tampil dalam Kabuki pada 1629 karena pertunjukan dinilai berkaitan dengan persoalan moral. Larangan terhadap pemain laki-laki muda kemudian diberlakukan pada 1652, sehingga panggung akhirnya diisi aktor laki-laki dewasa.

Tradisi seluruh pemain laki-laki dewasa tersebut dikenal sebagai Yaro-kabuki dan terus bertahan sejak zaman Edo hingga sekarang. Salah satu peran khasnya ialah 'onnagata', yaitu aktor laki-laki yang secara khusus memerankan karakter perempuan.

Aktor onnagata mempelajari gerak tubuh, ekspresi, serta intonasi suara untuk menggambarkan karakter perempuan. Latihan tersebut membutuhkan penguasaan teknik agar penampilan tokoh terlihat anggun dan meyakinkan di atas panggung.

Ciri lainnya adalah 'kumadori', yaitu tata rias wajah dengan alas putih dan garis-garis tebal berwarna mencolok. Warna merah, biru, cokelat, atau hitam pada riasan digunakan untuk menggambarkan sifat serta emosi masing-masing tokoh.

Pertunjukan Kabuki juga mengenal 'mie', yakni momen ketika aktor menghentikan gerakan lalu mempertahankan pose tertentu. Pose tersebut bertujuan menegaskan emosi tokoh sehingga adegan terasa lebih dramatis.

Interaksi penonton menjadi bagian menarik melalui 'kakegoe', yaitu seruan yang disampaikan ketika pertunjukan sedang berlangsung. Penonton biasanya menyebut nama aktor favorit atau meneriakkan seruan tertentu untuk menyemarakkan suasana pementasan.

Kabuki terbagi menjadi 'Kabuki-odori' yang menonjolkan tarian dan 'Kabuki-geki' yang mengutamakan sandiwara. Kabuki-geki mengangkat beragam cerita, mulai dari sejarah, kehidupan sehari-hari, hingga kisah para penjahat dalam masyarakat.

Tata panggung yang dilengkapi tirai membantu pergantian latar dalam setiap adegan. Pertunjukan juga menggunakan ketukan dua batang kayu pada bagian awal dan akhir untuk menghadirkan bunyi khas.

Kabuki mengalami pembaruan pada zaman Meiji agar dapat dinikmati kalangan masyarakat lebih luas. Pada tahun 2005, UNESCO mengakui Kabuki sebagai Warisan Lisan dan Takbenda Kemanusiaan. (Shafa)