RRI.CO.ID, Jakarta - Perekrutan warga negara Indonesia (WNI) untuk diberangkatkan menjadi tentara bayaran di Rusia diduga dilakukan melalui media sosial. Para korban awalnya ditawari pekerjaan di bidang logistik atau konvensional dengan iming-iming gaji tinggi.

Kombes Pol. Yolanda Evalyn Sebayang mengatakan, perekrutan dilakukan melalui sejumlah platform media sosial secara umum. Namun, komunikasi lebih intensif dengan calon korban kemudian dilakukan melalui aplikasi Telegram.

“Kalau dari pengakuan pelaku, biasanya memang memberikan tawaran pekerjaan itu di media sosial di X, TikTok, Instagram, dan Facebook. Tetapi mereka yang tertarik itu nanti komunikasi intensnya melalui Telegram,” ujar Yolanda dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Selasa, 3 November 2026.

Menurutnya, calon korban dijanjikan gaji tinggi agar bersedia bergabung dan berangkat ke Rusia. Pada tahap awal perekrutan di Indonesia, persyaratan yang diminta relatif sederhana, yakni kartu tanda penduduk (KTP) dan kondisi kesehatan yang baik.

[bacajuga=1;title="Polri Ungkap Perekrutan WNI ke Rusia, 10 WNI dan Tiga Tentara Rusia Jadi Tersangka";sumber="berita"]

“Persyaratan awalnya itu dari Indonesia hanya meminta KTP dan tubuhnya sehat. Awalnya diiming-imingi pekerjaan logistik ataupun konvensional lainnya, bukan menjadi tentara Rusia,” katanya.

Namun, setelah tiba di Rusia, para korban kembali menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum diberikan seragam dan menjalani pelatihan militer. Masa pelatihan tersebut bervariasi, mulai dari dua minggu hingga satu bulan, sebelum mereka dikirim ke garis depan.

"Nah nanti setelah mereka sampai di Rusia, mereka akan dicek kesehatan lagi. Setelah itu akan langsung diberikan seragam. Akan dilatih selama satu bulan, ada yang hanya dua minggu dilatihnya dan langsung dikirim ke garis depan," ujarnya.

Yolanda menjelaskan, informasi tersebut diperoleh penyidik dari keterangan langsung para korban. Selain melalui perekrut di media sosial, terdapat pula korban yang direkrut oleh teman sendiri setelah lebih dahulu menjadi tentara di Rusia.

Dalam pendalaman kasus, polisi menemukan bahwa lokasi perekrutan para korban berada di sejumlah wilayah Indonesia. Perekrutan dilakukan di Bogor, Jakarta, Medan, dan beberapa kota lainnya, sementara seluruh keberangkatan menuju Rusia diketahui melalui Jakarta.

[bacajuga=2;title="Waspada Lowongan Kerja Tentara Rusia di Medsos, Polisi Bongkar Modus TPPO WNI";sumber="berita"]

“Kalau peristiwanya, perekrutannya semuanya ada di Indonesia. Contohnya yang di Bogor direkrutnya di Bogor, yang di Jakarta direkrutnya di Jakarta, tetapi berangkatnya seluruhnya dari Jakarta,” ucapnya.

Polisi juga mencatat waktu keberangkatan para korban yang sebagian besar terjadi sepanjang 2026. Sejumlah WNI berangkat pada Maret dan April, sementara lainnya baru memperoleh informasi perekrutan pada Juni atau Juli dan berangkat pada Agustus hingga September.

Yolanda menyebut, informasi mengenai korban yang meninggal sejauh ini berkaitan dengan mereka yang berangkat lebih awal, yakni sekitar Maret 2026. Sementara itu, penyidik masih terus mendalami jaringan perekrutan dan kemungkinan adanya korban lain.