“Perusahaan bukan kasih hidup, dia mau kasih mati.” Begitu kata Utete, perempuan Adat Bajo yang tinggal di Morombo Pantai, Sulawesi Tenggara (Sultra), gambarkan kehidupan warga setelah ada industri nikel di wilayahnya, dalam dokumenter pendek “Busy Surviving: Women on Indonesia’s Nickel Frontier” besutan Climate Rights International (CRI). Dia harus merasakan seabrek kesulitan setelah perusahaan nikel beroperasi di sana. Memasang lebih banyak jaring dan melaut makin jauh, sementara tangkapan ikan pun menyusut. Jika biasa dalam satu malam dia sudah mendapat ikan yang banyak. Kini, dia harus berusaha ‘setengah mati’. Kesulitan itu dia rasakan setelah air laut berubah menjadi merah, tercampur limbah dari aktivitas tambang nikel di perbukitan, tepat di atas desanya. Kerugian itu hanya perusahaan ganti dengan sebatas ‘uang debu’ yang cair 90 hari sekali. Tak sebanding dengan kerugiannya. Dia pun harus beberapa kali demo untuk menagih haknya. Imbas air laut tercemar bukan hanya menyulitkan dia menangkap ikan untuk kebutuhan sehari-hari, tradisi Suku Bajo pun ikut terancam. Utete juga merupakan dukun beranak. Mempraktikkan ritus kelahiran khas masyarakat adat Bajo puluhan tahun lamanya. Ketika bayi lahir, masyarakat Adat Bajo melakukan ritual mencelupkan bayi ke laut. Praktik itu biasanya pada hari ke-3 setelah lahir dan saat bayi berusia 40 hari. Plasenta atau ari-ari bayi juga harus dihanyutkan ke laut sebagai bentuk penyatuan dengan alam. Ritual itu sudah tak bisa dia lakukan karena tak tega mencelupkan bayi di laut yang tercemar. “Bidan dulu belum ada, hanya kita-kita di dukun orang Bajo. Kita orang Bajo itu mi kekuatannya kita air asin,” ucapnya. Esti, perempuan yang tinggal…This article was originally published on Mongabay