RRI.CO.ID, Jakarta - Observatorium Neil Gehrels Swift NASA diperkirakan memasuki kembali atmosfer Bumi pada Rabu, 4 November 2026. Peristiwa ini terjadi hampir 22 tahun setelah wahana tersebut diluncurkan.
Dikutip dari laman NASA, Selasa, 3 November 2026, Swift memiliki bobot sekitar 1.450 kilogram. Wahana antariksa tersebut diproyeksikan memasuki atmosfer pada pukul 03.30 waktu setempat.
Namun, waktu masuknya kembali masih memiliki perkiraan ketidakpastian hingga 11 jam. NASA bersama Angkatan Antariksa Amerika Serikat terus memantau perkembangan waktu masuknya wahana tersebut ke atmosfer.
NASA memperkirakan sebagian besar komponen Swift akan terbakar saat melintasi atmosfer. Adapun, sejumlah bagian wahana kemungkinan masih bertahan dan jatuh ke permukaan Bumi.
[bacajuga=1;title="NASA Siapkan Teleskop UVEX untuk Petakan Alam Semesta dalam Cahaya Ultraviolet";sumber="berita"]
Lokasi jatuhnya puing-puing diperkirakan berada di antara garis lintang 20,6 derajat selatan hingga 20,6 derajat utara. Angka ini diperkirakan mengikuti lintasan orbit wahana tersebut.
Risiko puing-puing tersebut membahayakan manusia sangat kecil, yakni sekitar satu banding 2.100. Diketahui, Swift diluncurkan pada 2004 untuk mempelajari semburan sinar gamma atau gamma-ray bursts.
Semburan sinar gamma merupakan salah satu ledakan paling kuat di alam semesta. Awalnya, Swift dirancang untuk menjalankan misi utama selama dua tahun.
[bacajuga=2;title="El Niño 2026 Mirip Peristiwa 1997, NASA Ungkap Sinyal dari Samudra Pasifik";sumber="berita"]
Kendati demikian, observatorium ini justru mampu beroperasi lebih dari dua dekade dengan memanfaatkan tiga teleskop. Ketiganya digunakan untuk mengamati berbagai panjang gelombang cahaya.
Selama masa operasinya, Swift berkontribusi dalam penelitian berbagai fenomena kosmik. Mulai dari galaksi aktif yang ditenagai lubang hitam supermasif, semburan sinar-X dari bintang, ledakan supernova, hingga komet dan asteroid.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.