RRI.CO.ID, Jakarta – Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementerian Pertanian Drh. I Ketut Wirata meminta masyarakat tidak menjadikan ‘ultra-processed food’ sebagai pilihan utama. Menurutnya, produk pangan berbasis sel maupun tumbuhan merupakan inovasi yang belum bisa menggantikan bahan pangan alami.

“Ultraproses food ataupun plant-based meat ataupun misalkan self-cultivated base meat itu semua adalah inovasi. Yang tidak serta-merta bisa menggantikan bahan-bahan baku alami,” ujarnya kepada RRI PRO3 di Jakarta, Sabtu, 7 November 2026.

Ketut mengatakan, inovasi pangan tersebut berpotensi menjadi terobosan dalam menghadapi tantangan global, termasuk perubahan iklim. Selain itu, teknologi tersebut dapat dikembangkan untuk menghadapi keterbatasan lahan peternakan maupun hortikultura.

“Sebagai sebuah inovasi ini adalah sesuatu hal yang mungkin ke depan menjadi satu terobosan menghadapi tantangan global terkait perubahan iklim. Kemudian terkait dengan ketersediaan lahan untuk peternakan ataupun hortikultura dan lain sebagainya ini tentu menjadi satu terobosan,” katanya.

[bacajuga=1;title="Daging 3D Jadi Inovasi Pangan, Kementan Tetap Prioritaskan Pangan Alami";sumber="berita"]

[bacajuga=2;title="Kementan Dorong Optimalisasi Distribusi Pangan untuk Kendalikan Harga Cabai";sumber="berita"]

Meski demikian, Ketut menegaskan Indonesia saat ini masih berfokus meningkatkan produksi pangan alami. Upaya tersebut mencakup peningkatan produksi ternak serta pangan yang berasal dari tumbuhan.

Ia menjelaskan, produk ultra-processed food masih membutuhkan penelitian lebih mendalam mengenai aspek kesehatan dan keamanan pangan. Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa produk inovatif tersebut belum sepenuhnya diketahui dampak jangka panjangnya.

“Bagi masyarakat Indonesia secara khusus ini tentu tidak menjadi pilihan utama. Dan perlu penelitian ataupun kajian yang lebih mendalam terkait dengan aspek-aspek kesehatan, keamanan pangan dari sebuah ultra-process food,” ucap Ketut.

Ketut menilai, pangan berbasis teknologi tidak otomatis dapat menggantikan bahan pangan alami yang selama ini dikonsumsi masyarakat. Menurutnya, pengembangan inovasi harus tetap memperhatikan bahan baku sehat dan standar keamanan pangan.

“Tetapi kami mungkin fokus di keamanan pangan dan yang perlu kita garis bawahi adalah bagaimana produk pangan itu diproses. Berasal dari bahan baku yang betul-betul sehat atau standar untuk keamanan pangan,” ujarnya.