RRI.CO.ID, Jakarta - Yayasan Aman Datuk Madjoindo mendorong pelestarian puluhan karya sastra anak peninggalan sastrawan legendaris Aman Datuk Madjoindo. Upaya ini bertujuan memperkenalkan kembali warisan literasi Aman Datuk Madjoindo kepada generasi muda Indonesia.

Ketua Yayasan Aman Datuk Madjoindo, Boy Rafli Amar, mengatakan pihaknya menyimpan hampir 50 karya sang sastrawan. Sekitar 80 persen karya tersebut mengangkat cerita tentang kehidupan anak-anak.

"Jadi kami sampaikan beberapa karya dari Aman Datuk Madjoindo yang selama ini disimpan di Balai Pustaka. Itu ada hampir 50 yang 80 persennya bercerita tentang anak,” katanya dalam acara Mengenang 130 Tahun Aman Datuk Madjoindo di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.

Ia menyebut ‘Si Doel Anak Betawi’ menjadi salah satu karya yang paling menonjol. Karya lainnya meliputi ‘Si Cebol’, ‘Merimbun Tak Berdaun’, dan ‘Si Penidur’.

"Jadi cerita-cerita tentang anak inilah yang kami informasikan kembali, kami laporkan kembali. Salah satunya adalah tentunya yang menonjol adalah berkaitan dengan Si Doel Anak Jakarta atau Si Doel Anak Betawi,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga ingin menjadikan karya-karya tersebut sebagai bagian dari penguatan literasi generasi muda. Yayasan juga berupaya memperkenalkan kembali pemikiran Aman Datuk Madjoindo melalui berbagai lembaga terkait.

Ia menjelaskan Aman Datuk Madjoindo pernah berkarier di Balai Pustaka hingga menjabat sebagai direktur. Selama berkarier, Aman menghasilkan berbagai cerita anak yang menjadi bagian penting perjalanan sastra Indonesia.

"Beliau berkarier di Balai Pustaka mulai dari staf redaktur, penerjemah, pengarang. Sampai beliau purna tahun 59, menjadi pimpinan Balai Pustaka, menjadi direktur,” ujarnya.

Keluarga juga membangun komunikasi dengan Balai Pustaka, Kementerian Kebudayaan, dan Kementerian Pendidikan. Mereka berharap lembaga tersebut mendukung pemanfaatan karya Aman sebagai bahan edukasi.

"Kami mencoba komunikasikan dengan Balai Pustaka, dengan Kementerian Kebudayaan. Tentunya dengan Kementerian Pendidikan yang kita harapkan itu menjadi bagian dari materi literasi membaca edukasi bagi generasi muda Indonesia,” katanya.

Ia menilai cerita anak Aman Datuk Madjoindo mengandung nilai-nilai yang relevan untuk membangun karakter bangsa. Nilai tersebut mencakup religiusitas, kerja keras, kegigihan, gotong royong, dan penghormatan kepada orang tua.

"Karakter bangsa kita yang religius, karakter yang bekerja keras, karakter yang ulet, karakter yang semangat bergotong-royong. Karakter yang cinta pada negara, hormat dan patuh kepada orang tua,” ucapnya.

Bersamaan dengan itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta sekaligus pemeran Si Doel, Rano Karno, turut menyoroti pentingnya karya sastra anak. Ia mengaku telah membaca hampir seluruh buku Aman Datuk Madjoindo meski tidak pernah bertemu langsung dengan sang sastrawan.

"Saya enggak sempat kenal beliau, tapi buku-bukunya hampir semuanya baca. Dan memang kita kehilangan penulis-penulis, terutama untuk anak-anak,” katanya.

Ia menilai keberadaan penulis cerita anak semakin penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda. Ia juga menyampaikan rencana menghadirkan pertunjukan musikal sebagai bentuk penghormatan terhadap Aman Datuk Madjoindo.

"Insyaallah pada bulan Januari kami akan membuat tribute untuk Aman Datuk Madjoindo. Dengan sebuah musikal, namanya ‘Si Doel Musikal’," ujarnya. (Reporter: Davina Keisha Salsabila)