RRI.CO.ID, Jakarta – Direktur School of Computer Science Nusa Putra University, Profesor Teddy Mantoro, menyarankan perlunya pengetatan pengawasan perangkat digital di sekolah. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah kecurangan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Teddy menekankan pentingnya pemeriksaan perangkat sebelum peserta memasuki ruang ujian untuk mencegah penyalahgunaan teknologi. Menurutnya, larangan membawa telepon seluler perlu disertai pengendalian akses internet pada komputer yang digunakan peserta.

"Yang pertama kali itu kan waktu ujian, soal ujian diberikan di setiap komputer. Kemudian, pada saat masuk ke lokasi ujian, jangan bawa HP," ujarnya dalam dialog Pro3 RRI, Minggu, 1 November 2026.

Teddy menjelaskan pemutusan koneksi internet dapat menjadi salah satu langkah pencegahan apabila memungkinkan secara teknis. Namun, kebijakan tersebut belum tentu menutup seluruh peluang kecurangan karena peserta dapat menggunakan perangkat tambahan.

[bacajuga=1;title="Terbukti Terlibat Kecurangan TKA, Pengawas Dikenakan Sanksi Ringan hingga Berat";sumber="berita"]

[bacajuga=2;title="Peserta TKA yang Terbukti Curang Berat Terancam Terkena Skor Nol";sumber="berita"]

"Dia bawa USB drive, tetapi di dalamnya ada jaringan GSM. Jadi, walaupun internet sudah diputus, dia bisa terhubung kembali," katanya.

Menurutnya, perangkat USB yang memiliki kemampuan mengakses jaringan seluler dapat membuka kembali koneksi internet pada komputer peserta. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengawasan tidak cukup hanya mengandalkan pemutusan jaringan internet sekolah.

Ia menilai pengendalian perangkat harus memperhatikan berbagai cara peserta mengakses jaringan komunikasi di luar sistem ujian. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mencegah penggunaan teknologi yang memungkinkan peserta memperoleh bantuan jawaban secara tidak sah.

"Walaupun internet di sekolahnya sudah diputus waktu ujian, dia masukkan USB drive-nya. Komputer siswa tertentu itu akhirnya bisa terhubung ke internet," ucapnya.

Selain pengawasan perangkat, Teddy menyebut teknologi pengacak sinyal atau jammer sebagai salah satu kemungkinan pencegahan. Namun, penggunaannya memerlukan pertimbangan teknis dan aturan karena perangkat tersebut tidak dapat dipasang secara sembarangan.

Ia menjelaskan pengacak sinyal juga memiliki keterbatasan apabila jaringan lokal masih memungkinkan perangkat terhubung ke internet. Karena itu, penerapan teknologi pengamanan harus disesuaikan dengan kondisi jaringan dan kebutuhan penyelenggaraan ujian.

Teddy menekankan pentingnya tata kelola teknologi di sekolah agar berbagai celah kecurangan dapat diidentifikasi sejak awal. Pengawasan tersebut perlu didukung evaluasi dan pemeriksaan sistem untuk memastikan pelaksanaan TKA berlangsung secara jujur.