RRI.CO.ID, Jakarta – Rahayu Saraswati Djojohadikusumo bersama Reshma Wijaya resmi membuka Wira's Playroom, sekolah inklusif di Kemang, Jakarta, Selasa, 3 November 2026. Sekolah ini mengusung pendekatan pendidikan yang menyesuaikan kebutuhan, keunikan, serta cara belajar setiap anak.

Wira's Playroom hadir sebagai ruang pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan belajar dan perkembangan yang beragam. Kehadirannya berangkat dari gagasan bahwa lingkungan sekolah seharusnya menyesuaikan kebutuhan anak, bukan sebaliknya.

Pendekatan pendidikan inklusif tersebut sejalan dengan laporan Global Education Monitoring Report 2020 yang diterbitkan UNESCO. Laporan tersebut menunjukkan pendidikan inklusif dapat mendukung pencapaian akademik, perkembangan sosial emosional, kepercayaan diri, serta penerimaan anak.

Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, yang akrab disapa Sara, mendirikan Wira's Playroom bersama Reshma Wijaya. Reshma merupakan pendiri Saraswati Learning Center yang memiliki pengalaman dalam bidang pendidikan anak berkebutuhan khusus.

Sara terinspirasi mendirikan sekolah tersebut melalui pengalamannya mendampingi Wira, putranya yang memiliki Down Syndrome. Pengalaman itu membuatnya memahami pentingnya lingkungan pendidikan yang mampu mengenali kebutuhan serta potensi masing-masing anak.

[bacajuga=2;title="Rahayu Saraswati Ajak Anak Muda Eksplorasi Budaya Nusantara";sumber="berita"]

"Wira's Playroom lahir dari sebuah harapan sederhana, agar anak-anak kita tidak harus berjuang menyesuaikan diri dengan lingkungan yang belum memahami mereka. Justru lingkungan belajar yang seharusnya mampu disesuaikan dengan kebutuhan anak," ujar Sara dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa, 3 November 2026.

Sara mengatakan, pengalaman mendampingi anak berkebutuhan khusus mengajarkannya pentingnya sekolah yang benar-benar memahami kebutuhan peserta didik. Ia berharap Wira memperoleh kesempatan belajar dengan bahagia, merasa diterima, serta membangun kepercayaan diri.

“Saya belajar bahwa tantangan terbesar bukan semata-mata menemukan sekolah yang bersedia menerima anak kita. Tetapi menemukan tempat yang benar-benar memahami dan mampu mendukung mereka untuk berkembang,” katanya.

Sara berharap putranya dapat menjalani proses belajar dengan bahagia, memperoleh penerimaan, serta mengembangkan rasa percaya diri. Ia meyakini setiap anak berhak memperoleh kesempatan yang setara untuk belajar dan berkembang.

“Saya ingin Wira memiliki kesempatan untuk belajar dengan bahagia, merasa diterima, dan membangun kepercayaan diri. Saya percaya setiap anak berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” ucap Sara.

Sementara itu, Reshma Wijaya turut merancang kerangka pendidikan dan sistem pembelajaran sebagai fondasi Wira's Playroom. Pengalamannya mendampingi Cheryl, putrinya yang juga memiliki Down Syndrome, membentuk pandangannya mengenai potensi serta kemampuan setiap anak.

[bacajuga=1;title="Lewat Monolog, Rahayu Saraswati Angkat Suara Keluarga Korban TPPO";sumber="berita"]

Reshma menerapkan pendekatan play with purpose, yakni kegiatan bermain yang dirancang memiliki tujuan pembelajaran bermakna. Melalui pendekatan tersebut, anak memperoleh kesempatan bereksplorasi, berkomunikasi, membangun hubungan, mengembangkan kemandirian, serta mengenali kekuatan dirinya.

"Perjalanan saya dimulai bersama Cheryl, yang mengajarkan saya bahwa sebuah diagnosis tidak menentukan batas kemampuan dan masa depan seorang anak. Keyakinan inilah yang terus membentuk cara saya memandang pendidikan,” katanya.

Reshma menjelaskan, pemahaman terhadap cara belajar anak, lingkungan yang sesuai, serta kesempatan bereksplorasi dapat membantu mengembangkan potensi mereka. Prinsip tersebut menjadi landasan filosofi pendidikan yang diterapkan di Wira's Playroom.

“Ketika kita memahami bagaimana seorang anak belajar, menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhannya, dan memberinya kesempatan untuk bereksplorasi. Kita membuka pintu bagi berbagai potensi yang mungkin sebelumnya belum terlihat. Inilah filosofi yang menjadi dasar Wira's Playroom," ujar Reshma.