RRI.CO.ID, Jakarta - Hajjah Rangkayo Rasuna Said merupakan tokoh pergerakan kemerdekaan yang memperjuangkan kesetaraan perempuan. Kiprahnya melawan kolonialisme menjadikannya salah satu tokoh perempuan penting dalam sejarah Indonesia.
[bacajuga=2;title="Silas Papare, Pahlawan Nasional yang Berjuang Menyatukan Papua dengan Indonesia";sumber="berita"]
Kiprahnya berlangsung sejak masa kolonial hingga Indonesia memasuki periode setelah kemerdekaan. Rasuna Said aktif mendorong perempuan memperoleh kesempatan setara dalam pendidikan, sosial, dan politik.
Melansir Perpustakaan Nasional RI, Rasuna Said lahir di Maninjau, Sumatera Barat, 14 September 1910. Ia berasal dari keluarga terpandang Minangkabau, dengan ayah yang aktif dalam pergerakan masyarakat.
Kesempatan pendidikan yang diperolehnya membentuk ketertarikan Rasuna Said terhadap pengajaran, organisasi, dan kegiatan pergerakan. Ia pernah belajar di Pesantren Ar-Rasyidiyah, Sekolah Diniyah, Sumatra Thawalib, hingga Islamic College.
Pada 1926, Rasuna Said memulai aktivitas politik dengan bergabung dalam Sarekat Rakyat cabang Maninjau. Ia kemudian aktif di Persatuan Muslimin Indonesia atau Permi sejak 1930.
Selain berorganisasi, Rasuna Said mengajar dan memberikan kursus untuk meningkatkan kemampuan perempuan. Ia pernah mengajar di Sekolah Diniyah Putri serta membuka kelas pemberantasan buta huruf.
Melansir Universitas Negeri Yogyakarta, kemampuan berpidatonya membuat Rasuna Said dikenal sebagai orator perempuan yang berani mengkritik pemerintahan kolonial. Akibat pidato di Payakumbuh pada 1932, ia dipenjara selama satu tahun dua bulan.
Rasuna Said juga menggunakan jurnalistik untuk menyebarkan gagasan mengenai perempuan, pendidikan, dan perjuangan bangsa. Ia memimpin majalah Raya, kemudian menerbitkan Menara Poetri di Medan pada 1937.
Pada masa pendudukan Jepang, Rasuna Said bergabung dengan Pemuda Nippon Raya dan Giyûgun. Dalam Giyûgun, ia bertugas pada bagian logistik di seksi wanita.
[bacajuga=1;title="RA Kartini, Pelopor Pendidikan Perempuan lewat Tulisan";sumber="berita"]
Setelah kemerdekaan, perjuangannya berlanjut melalui lembaga perwakilan dan kegiatan politik tingkat nasional. Ia terpilih menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), DPR Republik Indonesia Serikat, dan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara.
Rasuna Said kemudian dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Ia juga aktif dalam Persatuan Wanita Republik Indonesia yang memperjuangkan kemajuan perempuan.
Rasuna Said wafat di Jakarta pada 2 November 1965 saat usianya 55 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata di Jakarta Selatan.
Pemerintah menetapkannya sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 084/TK/Tahun 1974. Penghargaan tersebut mengakui kiprahnya dalam pergerakan kemerdekaan dan perjuangan hak-hak perempuan.
Namanya kemudian diabadikan sebagai nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Jalan H.R. Rasuna Said menjadi pengingat atas perjuangan politik, pendidikan, dan jurnalistik yang ditempuhnya. (Shafa)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.