RRI.CO.ID, Gorontalo – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (MenPPPA) Arifah Fauzi menegaskan pengasuhan berkualitas dalam keluarga menjadi fondasi utama mencegah perundungan dan kekerasan terhadap anak. Ia mengajak orang tua menanamkan empati, budi pekerti, serta nilai-nilai positif sejak dini melalui pola pengasuhan yang baik.
Arifah menegaskan, pencegahan perundungan harus dimulai dari keluarga melalui pengasuhan berkualitas dan penanaman nilai empati sejak dini. Menurutnya, budi pekerti dan tanggung jawab perlu ditanamkan agar anak mampu menghargai sesama serta menghindari perilaku kekerasan.
“Jika keluarga memberikan pengasuhan yang berkualitas dan baik, anak-anak tidak akan melakukan bullying maupun kekerasan kepada siapa pun. Oleh karena itu, ini menjadi kepedulian dan perhatian kita bersama,” kata Arifah Fauzi saat memberikan sambutan dalam Dialog Interaktif Bersama Menteri PPPA di Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Rabu, 4 November 2026.
[bacajuga=1;title="Menteri PPPA Tekankan Pengasuhan Positif Cegah Kekerasan Anak";sumber="berita"]
Arifah menilai, keterlibatan ayah dan ibu dalam pengasuhan sangat penting untuk membentuk karakter anak. Ia juga menyoroti fenomena fatherless serta meningkatnya penggunaan gawai oleh anak yang berpotensi mengurangi interaksi dengan orang tua.
“Pengasuhan anak bukan hanya menjadi tugas ibu, tetapi merupakan tanggung jawab bersama ayah dan ibu dalam keluarga. Keterlibatan kedua orang tua penting membentuk karakter anak serta mencegah perilaku perundungan dan kekerasan,” ujar Arifah.
Selain penguatan pengasuhan,Arifah juga mendorong partisipasi anak dalam pembangunan melalui Forum Anak. Menurutnya, suara anak perlu didengar agar kebijakan dan program pembangunan sesuai dengan kebutuhan mereka.
[bacajuga=2;title="Menteri PPPA Ajak Perkuat Sinergi Lindungi Perempuan dan Anak";sumber="berita"]
“Anak-anak perlu diberikan ruang untuk berpartisipasi dan menyampaikan masukan terhadap pembangunan di desa masing-masing. Kita perlu mendengarkan langsung suara anak,” ujar Arifah.
Arifah menjelaskan, aspirasi anak dihimpun secara berjenjang mulai dari desa hingga tingkat nasional. Di tingkat nasional, aspirasi tersebut dirumuskan menjadi 12 rekomendasi yang disampaikan kepada kementerian terkait.
“Pencegahan kekerasan terhadap anak membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, dan keluarga. Keterlibatan tokoh adat dan masyarakat penting memperkuat perlindungan anak serta menciptakan lingkungan aman,” ujar Arifah mengungkapkan.
[bacajuga=3;title="Menteri PPPA Dorong Penguatan RBI hingga Tingkat Desa";sumber="berita"]
Kementerian PPPA mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan SIMFONI PPA Versi 3 untuk mencatat dan memantau kasus kekerasan terhadap anak. Sistem tersebut membantu mengidentifikasi jumlah laporan, perkembangan penanganan, serta kendala agar tindak lanjut kasus dilakukan secara tepat.
“Ruang Bersama Indonesia menjadi wadah kolaborasi masyarakat untuk memperkuat perlindungan perempuan dan anak melalui keterlibatan seluruh pemangku kepentingan. Kami berharap gerakan tersebut mampu meningkatkan kepedulian masyarakat dalam mencegah kekerasan serta menciptakan lingkungan aman bagi anak,” ucap Arifah menegaskan.
Sementara, Bupati Bone Bolango, Ismet Mile, mengapresiasi perhatian Menteri PPPA terhadap perlindungan perempuan dan anak di wilayahnya. Pemerintah daerah berkomitmen memperkuat upaya perlindungan melalui kerja nyata demi meningkatkan kesejahteraan perempuan dan anak.
“Kami mengapresiasi perhatian Menteri PPPA terhadap persoalan perempuan dan anak di Bone Bolango. Pemerintah daerah berkomitmen melanjutkan upaya perlindungan melalui kerja nyata demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya perempuan dan anak,” kata Ismet Mile.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama membuka diskusi.